Minggu, 17 Mei 2015

Herman Wiliam Daendels

Herman Wiliam Daendels lahir di Hattem, Gelderiend, Republik Belanda, 21 Oktober 1762, dan ia meninggal di Elmina, Belanda Pantai Emas, 2 Mei 1818 pada usia 55 tahun. Herman Wilian Daendels adalah seseorang politikus Belanda yang merupakan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-36. Ia memerintah antara tahun 1808-1811. Pada masa itu Belanda sedang dikuasai  oleh prancis.
Pada tahun 1780 dan 1787. Ia ikut para kumpulan pemberontak di Belanda dan kemudian melarikan diri ke Perancis. Di sana ia menyaksikan dari dekat Revolusi Perancis dan lalu menggabungkan diri dengan pasukan Batavia yang republikan. Akhirnya ia mencapai pangkat Jenderal dan pada tahun 1795 ia masuk Belanda dan masuk tentara Republik Batavia dengan pangkat Letnan-Jenderal. Sebagai kepala kaum Unitaris, ia ikut mengurusi disusunnya Undang-Undang Dasar Belanda yang pertama. Bahkan ia mengintervensi secara militer selama dua kali. Tetapi invasi orang Inggris dan Rusia di provinsi Noord-Holland berakibat buruk baginya. Ia dianggap kurang tanggap dan diserang oleh berbagai pihak. Akhirnya ia kecewa dan mengundurkan diri dari tentara pada tahun 1800. Ia memutuskan pindah ke HeerdeGelderland.
Pada tahun 1806, ia dipanggil oleh Raja Belanda, Raja Louis  (Koning Lodewijk), untuk berbakti kembali di tentara Belanda. Ia juga ditugasi untuk mempertahankan provinsi Friesland dan Groningen dari serangan Prusia. Lalu setelah sukses, pada tanggal 28 Januari 1807atas saran Kaisar Napoleon Bonaparte, ia dikirim ke Hindia Belanda sebagai Gubernur-Jenderal.
Daendels di Hindia Belanda
Maka setelah perjalanan yang panjang melalui Kepulauan Canaria, Daendels tiba di Bataviapada tanggal 5 Januari 1808 dan menggantikan Gubernur-Jenderal Albertus Wiese. Daendels diserahi tugas terutama untuk melindungi pulau Jawa dari serangan tentara Inggris. Jawa adalah satu-satunya daerah koloni Belanda-Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris setelah Isle de France dan Mauritius pada tahun 1807. Namun beberapa kali armada Inggris telah muncul di perairan utara laut Jawa bahkan di dekat Batavia. Pada tahun 1800, armada.
Sikap Daendels Terhadap Sultan Banten
Ketika Sultan tidak mau lagi memberi pekerja untuk pembuatan pelabuhan di Ujung Kulon, Daendels meminta supaya Patih Wargadiradja dipecat. Sesudah itu komandan Du Puy diutus Daendels untuk menuntut:
1.      Pekerja 100 orang setiap hari.
2.      Diserahkannya Patih kepadanya.
3.      Meminta kraton dipindahkan ke Anyer.
Tuntutan yang diminta Daendels tersebut dijawab dengan pembunuhan atas Du Puy dan prajurit Belanda yang  berjaga di kraton.Kemudian Daendels mengambil tindakan dengan menyerbu kraton yang menyerah pada tanggal 21 September 1808. Patih dibunuh, Sultan Zainu’lmuttakim dibuang ke Ambon. Setelah itu daerah Banten menjadi milik pemerintah. Banten dipinjamkan kepada puteranya ( Abu’lmufachir, Moh. Aliuddin II) tetapi daerah dikutragi dengan Lampung dan daerah pantai dan Sulta diawasi oleh seorang prefect di Serang. Namun pada bulan Agustus 1810 ia dianggap tidak cakap memerintah sehingga ia digantikan oleh S. Mochamad yang berjanji menyediakan 300 orang setiap hari untuk pembuatan pelabuhan di Teluk Merak.
Kebijakan yang Ada pada Masa Pemerintahan Daendels
1.    Bidang Pertahanan
Kebijakan pertama yang dilakukan Daendels dalam bidang pertahanan adalah melakukan rekruitmen terhadap kaum pribumi untuk dilatih menjadi militer
2.    Bidang Politik
Kebijakan pertama yang dilakukan Daendels dalam bidang politik adalah reformasi administrasi secara total. Daendels mengangkat semua bupati Jawa menjadi pejabat pemerintah Belanda untuk melindungi mereka dari pemerasan yang dilakukan oleh pejabat Belanda.

3.    Bidang Ekonomi
Dalam bidang ekonomi Daendels mengeluarkan kebijakan dengan menaikkan sewa pada penjualan candu dan menjual tanah partikelir.
4.    Bidang Sosial
Dijiwai oleh ideologi yang sama, Daendels menjalankan pemerintahannya dengan memberantas sistem feodal yang diperkuat oleh VOC.
5.    Bidang Peradilan
Daendels berusaha memberantas berbagai penyelewengan dengan mengeluarkan
berbagai peraturan. Daendels membentuk tiga jenis peradilan:
a.    Peradilan untuk orang Eropa,
b.    Peradilan untuk orang-orang Timur Asing, dan
c.    Peradilan untuk orang-orang pribumi. Peradilan untuk kaum pribumi dibentuk di setiap prefektur, misalnya di Batavia, Surabaya, dan Semarang.

Sikap Daendels Terhadap Sultan Yogyakarta dan Sunan Solo
Tahun 1808, Daendels mengeluarkan  “Peraturan Mengenai Tata Cara dan Upacara Kraton” yang berisi:
1.      Residen dilarang memberikan anggur dan tempat sirih kepada Sultan pada resepsi.
2.      Residen boleh memakai songong mas.
3.      Residen tidak perlu membuka topi kepada Sultan.
Tindakan Daendels terdorong dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di Yogyakarta. Peristiwa itu antara lain:
1.      Mangku buwono II terpengaruh oleh selirnya yang ketiga (Gusti Kencana Wulan) dan akan mengangkat anak menantu selir tadi (Natadingrat) sebagai penggantinya.
2.      Sunan Solo mengadukan, bahwa bupati Madiun R. Rangga Prawiradidja memasuki daerahnya dan merampas.
Kedua hal itu dijadikan alasan oleh Daendels untuk memecat Sultan dan mengangkat putera mahkota sebagai pengganti. Akhirnya Daendels mengambil daerah mereka yang ada ditengah-tengah daerah pemerintah.

Tindakan-Tindakan yang Dilakukan Daendels Mengenai Pemerintah:
1.      Pemerintahan dipusatkan di Jakarta, tanah Jawa dibagi menjadi 9 karesidenan (land drost).
2.      Gaji pegawai dinaikkan supaya mereka tidak korupsi.
3.      Pegawai Pangreh Pradja dilarang menerima persembahan dari rakyat dan mengerjakan rodi mereka untuk kepentingan sendiri.
4.      Memperbaiki kehakiman.
5.      Membentuk badan yang memeriksa dan mengawasi administrasi (pemerintah).
Keadaan daerah diluar tanah Jawa pada masa pemerintahan Daendels:
1.      Banjarmasin dilepaskan sama sekali.
2.      Maluku diperintah oleh prefect Ambon yang dibantu oleh kesatuan tentara dibawah Kolonel Fils. Tetapi akhir tahun 1809 Ambon menyerah kepada Inggris.
3.      Sebentar kemudian jatulah Makasar, Manado, daerah Minahasa, Banda dan Ternate
4.      Timor dapat mempertahankan diri.

Masa pemerintahan Daendels di Hindia Belanda berakhir pada tahun 1811. Ia ditarik kembali ke Eropa karena sikap Daendels yang buruk mengundang kebencian rakyat dan pegawainya. Louis Napoleon kemudian merasa bertanggung jawab atas yang terjadi di Hindia Belanda dan ia menggantikan Daendels dengan Janssens.